Awalnya, hanya keluhan-keluhan kecil yang saya anggap biasa. Memang sejak Rina mengalami placenta previa, dia sering mengeluh sakit pada perut bagian bawah saat sang bayi bergerak-gerak di dalam perut. Tapi karena keluhannya berlebihan, akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke klinik dimana Rina pernah dirawat saat placenta previa dulu.
Proses yang sangat mirip malam itu, kami meninggalkan rumah tengah malam. H B Cinta dan W S Kasih yang lagi terlelap tidur, kami tinggalkan didalam rumah yang kami kunci dari luar. Saya hanya berharap agar kecerdasan H B Cinta untuk memanfaatkan H P yang saya tinggalkan didekatnya untuk menelpon saya saat dia terbangun nantinya.
Motor yang kami tumpangi, saya parkir di depan Wihdatul Ummah, tempat yang kami pilih buat Rina melahirkan. Rina merasa nyaman dengan pelayanan petugas-petugas di klinik ini saat dia dirawat waktu dia mengalami placenta previa dulu.
Setelah beberapa saat, Rina keluar lagi dari ruang periksa, “Sudah pembukaan dua…”, katanya. Langsung saya pulang lagi untuk ambil perlengkapan.
Setelah perlenggkapan saya ambil, saya pulang lagi untuk jemput kedua anakku yang masih tidur di rumah. Kami bertiga baru bisa sampai di klinik mendekati jam empat pagi.
Sampai di depan ruang bersalin, kami langsung disambut dengan erangan-erangan kesakitan Rina. Kami bertiga langsung berdoa.
Ditengah doa, terdengar suara tangisan bayi, saya senang karena saya pikir bayinya sudah lahir, waktu itu jam empat lewat lima menit. Tapi saya agak bingung, karena setelah itu, Rina kesakitan lagi.
Sekitar jam lima kurang seperempat, terdengar lagi tangisan bayi, saya langsung berfikir bayinya kembar…” . Saya sempat katakan kepada HBC, “Mungkin adik kembar nak…”. (Belakangan baru saya tahu kalau suara tangisan tersebut adalah suara anak perawat yang membantu persalinan Rina).
Beberapa menit berlalu, istriku mengerang kesakitan lagi. Kali ini saya benar-benar bingung. Saya coba membunuh waktu dengan cara menyibukkan diri bersama HBC dan WSK yang saat itu sudah mulai mengantuk dan bosan menunggu.
Saya makin gelisah ketika bidan yang menangani keluar ruangan dengan ekspresi yang agak tegang. Dia berlalu tanpa komentar. Tak lama kembali lagi besama seorang lainnya. Saya bisa tebak kalau yang datang kali ini adalah seorang dokter. Kemudian mereka berdua masuk kedalam ruangan bersalin.
Jam enam pagi, keluarlah seorang petugas yang lain, “Bapak suaminya..?” Saya menganguk. “Bayinya sudah lahir, laki-laki…tapi,” lanjutnya. “Alhamdulillah…” saya langsung potong sambil tersenyum, “tapi apa?” tanyaku. “Tapi belum boleh masuk, lagi dibersihkan”, jawabnya. “oh..” kataku lega…
Setelah diperbolehkan kami bertiga langsung masuk ke ruangan bersalin.