Berbeda dengan orang dewasa, seorang anak dengan gangguan pendengaran, hukumnya wajib untuk memakai alat bantu dengar.
Seorang dewasa, meskipun gangguannya sudah sangat berat, dia sudah bisa memutuskan sendiri kebutuhan yang dia inginkan. Sarie misalnya. Seorang gadis cantik, dua puluh delapan tahun, dengan gangguan pendengaran diatas sembilan puluh desibel. Baru akan memulai mengenakan alat bantu dengar untuk kebutuhan esok harinya yang akan berangkat umroh.
Sedangkan anak-anak, masa terbaik untuk mulai dipakaiakan alat bantu dengar adalah masa dimana dia belum paham akan kebutuhannya. Dalam hal ini adalah kebutuhan untuk menggunakan alat bantu dengar. Hampir semua anak-anak ini menolak untuk dipakaikan alat bantu dengarnya. Padahal, proses belajar mendengar dan berbicara, tidak boleh ditunda-tunda lagi.
Pada kasus Sarie, walaupun saya penganut faham tidak ada kata terlambat untuk memakai alat bantu dengar, saya tetap harus fair katakan, kalau hasilnya akan sangat minimal. Saya lega ternyata keluarganya sudah menyadari hal itu. “Yah…paling tidak, ada suara-suara yang dia dengar”, katanya. Terbukti begitu beberapa detik Sarie pakai alat, mukanya langsung memberikan ekspresi yang aneh. Sebuah respon dari suara-suara yang dia dengar. Pada kasus ini saya anggap pemakaian alat bantu dengar adalah sebuah pilihan.
Tetapi tidak demikian apabila kasusnya pada anak-anak balita, dibawah tiga tahun khususnya. Saya selalu katakan kepada orang tua yang mendampinginya bahwa pemakaian alat bantu dengar pada anak mereka, wajib hukumnya. Dan tidak boleh ditunda-tunda. Kalau terbentur pada masalah ekonomi, ABD pocket yang murah, saya pikir menjadi solusi.. Walaupun dalam memoarnya yang berjudul ”I Can (Not) Hear”, San C Wirakusuma ”menghinanya”, dengan mengatakan ABD yang kuno. Dari pada tidak ada sama sekali mbak San-san, ya nggak mbak…?
Saya sangat menganjurkan kepada orang dewasa yang ingin pakai ABD untuk mencobanya lebih dahulu. Perlu juga dilakukan pengaturan trimmer secara manual. Beberapa ABD yang canggih butuh software khusus untuk pengaturannya. Karena beberapa faktor akan mempengaruhi performa ABD atau sejauh mana ABD dapat memberikan manfaatnya.
Hal ini tidak berlaku bagi anak-anak. Banyak orang tua yang sangat menginginkan anaknya dicobakan dulu alat bantu dengar. Mereka ingin lihat respon yang akan diberikan sang anak. Saya selalu katakan kepada mereka bahwa hal itu tidak ada gunanya. Karena responnya akan sangat susah dilihat. Kalaupun kelihatan jelas, mereka belum tentu tau kalau itu sebuah respon.
Terutama karena faktor estetis, agar tidak (terlalu) kelihatan, beberapa orang dewasa menginginkan alat yang custom, yang kecil dan bisa masuk ke liang telinga. Beberapa orang bisa mendapatkan alat seperti ini dengan syarat gangguan pendengarannya belum berat.
Dengan alasan yang sama, bebrapa orang tua menginginkan anaknya memakai alat yang seperti ini. Mereka tidak akan mendapatkan, karena gangguan pendengaran pada anak-anak hampir semua sangat berat dan beberapa alasan lainnya. Pada kasus ini, walapun anak-anak ini belum memiliki rasa malu memakai alat, tapi justru orang tua merekalah yang malu. Saya sangat berharap rasa ini bisa dihilangkan, karena bila saatnya tiba, orang tualah yang nanti yang harus membesarkan hati sang anak untuk tidak merasa malu memakai alatnya.
Beberapa orang dewasa dengan gsngguan saraf pendengaran atau SNHL (sensorineural hearing loss) dan diskriminasi kata yang buruk akan mendapatkan manfaat ABD yang tidak sesuai dengan harapan atau espektasinya. Sebagian memutuskan untuk tidak memakai. Sebagian memutuskan memakai ABD dan mendapakan manfaat yang berangsur meningkat. Lagi-lagi ini adalah sebuah pilihan.
Pada anak-anak dengan gangguan sangat berat, sudah pasti gangguan saraf atau SNHL. Dibutuhkan bantuan alat untuk pendengarannya. Tentu saja dia memiliki persepsi tersendiri terhadap sebuah kata yang dipelajari, dalam hal ini yang dia dengar dan dia ucapkan. Persepsi itu selalu benar asal konteksnya benar. Proses belajar ini tidak akan terjadi tanpa alat bantu dengar
Jadi akan ada perlakuan yang berbeda untuk orang dewasa dan untuk anak-anak dalam usaha pemakaian alat bantu dengar untuk mereka. Karena pada orang dewasa, pemakaian alat bantu dengar menjadi sebuah pilihan dengan keputusan memakai atau tidak yang bisa sepenuhnya diambil oleh yang bersangkutan. Sedangkan untuk anak-anak, pemakaian alat bantu dengar menjadi sebuah keharusan yang keputusan pemakaiannya ada di tangan orang tua mereka.