Sebelum bisa menempati rumah sendiri, lebih dari enam belas tahun, saya bertempat tinggal dengan cara ngekost atau ngontrak. Melewatkan waktu dengan cara ngekost ataupun mengontrak selama itu tentu saja telah begitu banyak pengalaman yang telah saya dapatkan. Terutama pengalaman duka.
Pengalaman pertama adalah ketika awal kuliah. Bersama dengan beberapa teman, saya mengontrak sebuh rumah di sebuah perumahan di dekat kampus. Pada musim hujan, ternyata terjadi banjir setinggi setengah meter di rumah kami ini.Untuk bertahan, kami merangkai bambu yang kami beli untuk dijadikan ”lantai dua” setinggi kurang lebih satu setengah meter, dalam salah satu kamar kami. Di ”lantai dua” inilah kami bertahan sampai banjir mereda. Ironisnya, ketika musim kemarau, di perumahan ini sama sekali tidak ada air, termasuk air pam juga tidak mengalir. Kami bertahan dengan cara membeli es batu untuk kami rebus dahulu sebelum kita gunakan untuk minum ataupun ”mandi”.
Masa berikutnya, adalah ketika saya mengontrak rame-rame di sebuah perumahan yang lain. Kali ini bersama teman-teman kampus. Hampir semua yang tinggal dan numpang tinggal disitu, gondrong semua. Tidak jarang lebih sepuluh orang gondrong tinggal disitu. Tetangga kira kita ini kumpulan anak nakal. Banyak cara dilakukan untuk bertahan di masa ini. Dari mancing ikan sampai nembak burung dilakukan untuk dipakai lauk makan. Suatu ketika, perumahan lagi banjir. Disekitar rumah banyak tumbuh kangkung. Muncul ide untuk memetik kangkung tersebut. Ternyata, setelah dimasakpun, kangkungnya masih beraroma khas wc.
Masa berikutnya, saya tinggal di pondokan. Disini, kamarku jadi tempat ngumpul juga. Saya tinggal berdua Untung, salah satu teman yang berasal dari Jakarta. Ada pemahaman yang aneh di pondokan ini tentang kamarku. Setiap saya bertanya tentang keberadaan seseorang, yang secara kebetulan saya tidak tahu bahwa yang bersangkutan berada di kamarku sendiri, sering saya mendapati jawaban-jawaban yang rancu dari orang-orang tersebut, karena mereka selalu menjawab ”Oh..ada di kamarnya Untung..” atau ”Coba cari di kamarnya Untung…” Padahal yang bayar sewa pondokan itu kan saya. Seharusnya kan itu kamar saya, bukan kamarnya Untung.
Berikutnya adalah ketika kuliahku sudah selesai. Karena sudah sssselesai kuliah, saya malu minta uang lagi ke orang tua. Karena tidak ada uang untuk bayar kost, saya memilih untuk tinggal di kampus. Disalah satu ruangan sekretariat. Ada saja yang bawa makanan untuk bertahan hidup. Tapi pernah dihari minggu, hari libur bagi anak kuliah. Sudah begitu, semua orang pulang ke rumah masing-masing. Sementara, persediaan makanan lagi tidak ada sama sekali. Untunglah di sekitar situ ada pohon pisang yang sudah berbuah. Walau masih mentah, tapi kalau direbus, enak juga. Jadi hari itu, makan pagi, makan siang dan makan malam, menunya pisang mentah rebus. Seharian saya terkentut-kentut.
Setelah saya berkeluarga, terhitung empat kali kami menempati rumah kontrakan yang berbeda. Kecuali yang keempat, tiga yang pertama, berturut-turut, kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Yang pertama adalah saat tetangga kami, sesama pengontrak, tanpa sepengetahuan kami, ternyata lagi bermusuhan dengan kakak kandungnya yang kebetulan bertempat tinggal tepat didepan kontrakan kami.Dia marah karena tidak dikasih ijin lagi untuk tinggal dirumah kakaknya, sehingga dia harus mengontrak. Dia tidak rela kalau kami berhubungan baik sengan kakaknya sekeluarga. Tanpa kami ketahui penyebabnya, tiba-tiba dia sekeluarga mengamuk dan mengejar-ngejar istri dan anakku yang masih bayi digendongannya. Kami terpaksa pindah dari situ dengan menyisakan sekitar enam bulan masa kontrak yang sudah terlanjur kami bayar.
Yang kedua, adalah saat kami mengontrak sebuah petak kecil untuk kami tinggali. Kami memanfaatkan ruangan semi terbuka didepan kamar kami untuk dijadikan tempat masak. Karena mungkin sudah jadi kebiasaannya, dimalam hari, ruangan ini juga menjadi tempat favorit bagi seekor anjing tua milik yang empunya rumah untuk buang kotoran. Dengan kesal, setiap pagi istriku mengawali kegiatan membersihkan kotoran anjing di ”dapur” kami.
Yang ketiga, adalah saat kami mengontrak di sebuah rumah petak yang kalau hujan deras, banjir. Tapi yang paling tidak menyenangkan adalah ulah suami istri, tanpa anak, pemilik rumah kontrak yang tinggal disebelah rumah kami, dengan hanya bersekat dinding triplek saja. Sang suami, punya hobi minum alkohol, yang kalau mabuk suka teriak-teriak tidak jelas, lebih sering, ditengah malam menjelang pagi. Anehnya, sang istri, walaupun tidak pernah mabuk, tingkahnya tidak kalah dengan suaminya. Suatu malam, sekitar jam dua, sang istri berteriak sangat keras ”Tolong…tolong…!” Saya terbangun dari tidur pulasku dan sekonyong-konyong meloncat dari tempat tidur. Setelah berusaha keras mengumpulkan kesadaran, akhirnya saya ada di depan pintu rumahnya dengan beberapa tetangga. Tapi kami semua takut untuk masuk kerumahnya. Kami mengira, sang istri akan dibunuh oleh suaminya yang lagi mabuk. Setelah istrinya keluar, kami baru tahu, ternyata sang suami berusaha bunuh diri dengan cara makan kapur barus.
you are our inspiration, keep survive…..
thanks guys…