Ibu Tua di Kereta, Ibuku dan Ibunya Anakku

Januari 22, 2010

Suatu ketika, pada awal Januari 2010, saya dalam sebuah perjalanan dari Jakarta ke Tuban, menumpang kereta api Kerja Jaya. Semalaman berada diatas kereta api kelas ekonomi seperti ini, selalu saja ada cerita baru.

Suasananya tidak berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Penjaja makanan dan minuman, pengamen karaoke, penyapu lorong gerbong, penyemprot pengharum ruangan, sampai dengan peminta-minta. Semuanya demi rupiah penumpang, yang berjubel.

Separuh perjalanan, didepanku, duduklah seorang ibu tua berkerudung, kisaran 50 tahunan yang langsung terlelap dalam tidurnya. Meskipun dibatasi dua baris tempat duduk, saya masih bisa melihat dengan jelas ibu tersebut, karena kami berdua duduk di bangku dekat lorong. Bedanya saya di sebelah kiri lorong, ibu itu si sebelah kanan.

Paginya, lelaki berbadan besar di depan ibu tersebut, sarapan nasi pecel dari penjual yang lewat. Dia berbaik hati dengan membelikan juga beberapa orang disekitarnya, termasuk ibu tua tersebut. Tak lama, setelah saya lihat ibu tua tersebut sempat menukar lauk ayam goreng dengan sate, dia sibuk menikmati nasi pecel, sambil sesekali terlihat kerupuk ditangan kanannya.

Selesai semua makan, ibu tua ini tidak serta merta membuang pembungkus nasi warna coklat dengan lapisan daun pisang di bagian dalam tersebut. Beberapa saat setelah selesai minum air pun, masih dipeganginya bungkus nasi tersebut. Dalam benakku berkata, mungkin dia enggan untuk buang sampah sembarangan. Sampai akhirnya dia keluarkan sebuah kantong plastik kresek hitam yang sudah kusut dari dalam tasnya. Dia buka kantong itu, lalu dia masukkan sesuatu yang dia ambil dari dalam bungkus nasi yang dia pegangi di tangan kirinya. Setelah itu, dia masukkan kembali kantong plastik warna hitam tersebut kedalam tasnya.

Akhirnya, saya faham, kenapa ibu tidak segera membuang bungkus nasi yang dia pegang. Rupanya dia masih menyimpan sate yang seharusnya menjadi lauk saat dia makan nasi pecel tadi.

Saya tidak tahu pasti apa yang ada dalam benak ibu tua tersebut. Mungkin sepotong kerupuk sudah cukup baginya untuk menemani makan nasi pecelnya, sehingga sate tersebut bisa dijadikan lauk untuk makan siang nanti di rumah. Atau, dia tidak tega makan ”enak” sendirian, sementara mungkin anak, atau cucu, atau bahkan suaminya, di rumah tidak turut menikmati sate tersebut.

Dua hari tinggal di rumah, benar-benar saya manfaatkan untuk memenuhi rasa kangen saya terhadap masakan ibu. Sudah dua tahun lebih, sejak terakhir kali saya mengunjungi mereka lagi. Tanpa memintapun ibu akan membuatkan saya sambel terasi dengan terong mentah sebagai lalapannya. Tidak lupa ikan mas panggang yang digoreng lagi.

Teringat kejadian dua tahun lalu, saat saya ajak serta istri dan anak-anakku ke rumah ini, tiba-tiba ibuku bertanya, ”kenapa kok istrimu ”kolon” Bud..?”, katanya. Karena selama ini saya kurang memakai bahasa jawa, saya sudah kehilangan kosa kata tersebut. Saya bingung.

Ibuku berusaha menjelaskan dengan contoh. Ketika itu Rina, istriku, sedang makan lontong tahu dengan nikmatnya, ini pertama kali dalam hidupnya. ”Kenapa dia makan sendiri? Kenapa tidak tawari saya? Kenapa tidak ajak saya makan?”. Akhirnya saya mengerti kembali arti kata ”kolon” tersebut. Yaitu makan diam-diam atau makan tidak ingat-ingat. Atau dalam terjemahan langsung adalah gampang ditelan atau enak ditelan.

”Ah tidak”, belaku. ”Mungkin waktu itu dia merasa sebagai tamu saja. Dia itu tidak tegaan bu.. Dia selalu dahulukan saya dan anak-anaknya, kalau perlu dia makan sisa saya dan anak-anak”, tambahku. ”Bahkan, dia itu mirip ibu…, nasi yang hampir basi pun sayang untuk dia buang, jadi dia memakannya.” Hal ini merujuk kepada kebiasaan ibu yang kalau ada nasi yang hampir basi, dia suka membuat sambel terasi. Kemudian dia makan nasi tersebut dengan lauk tempe yang di penyet diatas sambel terasi. ”Jadi tidak ada makanan sisa di rumah kami bu…”. lanjutku.

Ibuku hanya terdiam mendengar penjelasanku. Saya langsung teringat ibu tua di atas kereta api dua hari yang lalu. Mungkin ibu tua itu tidak ”kolon”…