Lahirnya Anak Lelakiku

Oktober 11, 2010

Awalnya, hanya keluhan-keluhan kecil yang saya anggap biasa. Memang sejak Rina mengalami placenta previa, dia sering mengeluh sakit pada perut bagian bawah saat sang bayi bergerak-gerak di dalam perut. Tapi karena keluhannya berlebihan, akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke klinik dimana Rina pernah dirawat saat placenta previa dulu.

Proses yang sangat mirip malam itu, kami meninggalkan rumah tengah malam. H B Cinta dan W S Kasih yang lagi terlelap tidur, kami tinggalkan didalam rumah yang kami kunci dari luar. Saya hanya berharap agar kecerdasan H B Cinta untuk memanfaatkan H P yang saya tinggalkan didekatnya untuk menelpon saya saat dia terbangun nantinya.

Motor yang kami tumpangi, saya parkir di depan Wihdatul Ummah, tempat yang kami pilih buat Rina melahirkan. Rina merasa nyaman dengan pelayanan petugas-petugas di klinik ini saat dia dirawat waktu dia mengalami placenta previa dulu.

Setelah beberapa saat, Rina keluar lagi dari ruang periksa, “Sudah pembukaan dua…”, katanya. Langsung saya pulang lagi untuk ambil perlengkapan.

Setelah perlenggkapan saya ambil, saya pulang lagi untuk jemput kedua anakku yang masih tidur di rumah. Kami bertiga baru bisa sampai di klinik mendekati jam empat pagi.

Sampai di depan ruang bersalin, kami langsung disambut dengan erangan-erangan kesakitan Rina. Kami bertiga langsung berdoa.
Ditengah doa, terdengar suara tangisan bayi, saya senang karena saya pikir bayinya sudah lahir, waktu itu jam empat lewat lima menit. Tapi saya agak bingung, karena setelah itu, Rina kesakitan lagi.
Sekitar jam lima kurang seperempat, terdengar lagi tangisan bayi, saya langsung berfikir bayinya kembar…” . Saya sempat katakan kepada HBC, “Mungkin adik kembar nak…”. (Belakangan baru saya tahu kalau suara tangisan tersebut adalah suara anak perawat yang membantu persalinan Rina).

Beberapa menit berlalu, istriku mengerang kesakitan lagi. Kali ini saya benar-benar bingung. Saya coba membunuh waktu dengan cara menyibukkan diri bersama HBC dan WSK yang saat itu sudah mulai mengantuk dan bosan menunggu.

Saya makin gelisah ketika bidan yang menangani keluar ruangan dengan ekspresi yang agak tegang. Dia berlalu tanpa komentar. Tak lama kembali lagi besama seorang lainnya. Saya bisa tebak kalau yang datang kali ini adalah seorang dokter. Kemudian mereka berdua masuk kedalam ruangan bersalin.

Jam enam pagi, keluarlah seorang petugas yang lain, “Bapak suaminya..?” Saya menganguk. “Bayinya sudah lahir, laki-laki…tapi,” lanjutnya. “Alhamdulillah…” saya langsung potong sambil tersenyum, “tapi apa?” tanyaku. “Tapi belum boleh masuk, lagi dibersihkan”, jawabnya. “oh..” kataku lega…

Setelah diperbolehkan kami bertiga langsung masuk ke ruangan bersalin.


Tanggal Merah, Tidak Libur

Agustus 27, 2010

Harum Bunga Cinta (HBC); anakku, terlambat berangkat sekolah hari ini. HBC sekolah di kelas satu SD Inpres Nipa-nipa tahun ini.

Dia terlambat karena sejak dari tadi malam, ibunya bilang kalau hari ini hari libur, berdasarkan sebuah kalender yang terpajang di belakang lemari yang merangkap dinding kamar. Di kalender ini, hari ini, tanggal 27 agustus 2010 berwarna merah alias libur Nuzulul Quran. Kalender ini saya dapat geratis dari sebuah toko parcel.

Saya yang juga percaya kalau hari ini libur, mencoba menikmatinya bersama mentok-mentok peliharaanku pagi ini. Sedang asik memberi makan mentok, tiba-tiba teriak dari jauh ibunya anggel; teman sekolah HBC, “Harum tidak sekolah kah?’. Dengan santai saya jawab, “Tidak, libur…”. Tapi beberapa detik kemudian saya jadi ragu. Saya ambil hp dan menelpon Pak Rusli; teman kerjaku. Saya tanyakan apakah hari ini libur. Istrinya yang kebetulan mengangkat telpon menjawab kalau hari ini tidak libur.

Saya langsung suruh HBC siap-siap berangkat ke sekolah. Harum laksanakan sambil menangis, sepertinya dia takut masuk kelas terlambat karena saat itu memang sudah lewat setengah jam jam masuk sekolah.

Dari kejadian ini, yang paling saya anggap penting adalah kedatangan Ibu Anggel. Mengingatkan sesuatu yang benar dan begitu kami butuhkan. Kalau tidak, pasti HBC tidak masuk sekolah dan saya tidak masuk kerja hari ini.


Gangguan Pendengaran pada Anak-anak dan Orang Dewasa

Mei 7, 2010

Berbeda dengan orang dewasa, seorang anak dengan gangguan pendengaran, hukumnya wajib untuk memakai alat bantu dengar.

Seorang dewasa, meskipun gangguannya sudah sangat berat, dia sudah bisa memutuskan sendiri kebutuhan yang dia inginkan. Sarie misalnya. Seorang gadis cantik, dua puluh delapan tahun, dengan gangguan pendengaran diatas sembilan puluh desibel. Baru akan memulai mengenakan alat bantu dengar untuk kebutuhan esok harinya yang akan berangkat umroh.

Sedangkan anak-anak, masa terbaik untuk mulai dipakaiakan alat bantu dengar adalah masa dimana dia belum paham akan kebutuhannya. Dalam hal ini adalah kebutuhan untuk menggunakan alat bantu dengar. Hampir semua anak-anak ini menolak untuk dipakaikan alat bantu dengarnya. Padahal, proses belajar mendengar dan berbicara, tidak boleh ditunda-tunda lagi.

Pada kasus Sarie, walaupun saya penganut faham tidak ada kata terlambat untuk memakai alat bantu dengar, saya tetap harus fair katakan, kalau hasilnya akan sangat minimal. Saya lega ternyata keluarganya sudah menyadari hal itu. “Yah…paling tidak, ada suara-suara yang dia dengar”, katanya. Terbukti begitu beberapa detik Sarie pakai alat, mukanya langsung memberikan ekspresi yang aneh. Sebuah respon dari suara-suara yang dia dengar. Pada kasus ini saya anggap pemakaian alat bantu dengar adalah sebuah pilihan.

Tetapi tidak demikian apabila kasusnya pada anak-anak balita, dibawah tiga tahun khususnya. Saya selalu katakan kepada orang tua yang mendampinginya bahwa pemakaian alat bantu dengar pada anak mereka, wajib hukumnya. Dan tidak boleh ditunda-tunda. Kalau terbentur pada masalah ekonomi, ABD pocket yang murah, saya pikir menjadi solusi.. Walaupun dalam memoarnya yang berjudul ”I Can (Not) Hear”, San C Wirakusuma ”menghinanya”, dengan mengatakan ABD yang kuno. Dari pada tidak ada sama sekali mbak San-san, ya nggak mbak…?

Saya sangat menganjurkan kepada orang dewasa yang ingin pakai ABD untuk mencobanya lebih dahulu. Perlu juga dilakukan pengaturan trimmer secara manual. Beberapa ABD yang canggih butuh software khusus untuk pengaturannya. Karena beberapa faktor akan mempengaruhi performa ABD atau sejauh mana ABD dapat memberikan manfaatnya.

Hal ini tidak berlaku bagi anak-anak. Banyak orang tua yang sangat menginginkan anaknya dicobakan dulu alat bantu dengar. Mereka ingin lihat respon yang akan diberikan sang anak. Saya selalu katakan kepada mereka bahwa hal itu tidak ada gunanya. Karena responnya akan sangat susah dilihat. Kalaupun kelihatan jelas, mereka belum tentu tau kalau itu sebuah respon.

Terutama karena faktor estetis, agar tidak (terlalu) kelihatan, beberapa orang dewasa menginginkan alat yang custom, yang kecil dan bisa masuk ke liang telinga. Beberapa orang bisa mendapatkan alat seperti ini dengan syarat gangguan pendengarannya belum berat.

Dengan alasan yang sama, bebrapa orang tua menginginkan anaknya memakai alat yang seperti ini. Mereka tidak akan mendapatkan, karena gangguan pendengaran pada anak-anak hampir semua sangat berat dan beberapa alasan lainnya. Pada kasus ini, walapun anak-anak ini belum memiliki rasa malu memakai alat, tapi justru orang tua merekalah yang malu. Saya sangat berharap rasa ini bisa dihilangkan, karena bila saatnya tiba, orang tualah yang nanti yang harus membesarkan hati sang anak untuk tidak merasa malu memakai alatnya.

Beberapa orang dewasa dengan gsngguan saraf pendengaran atau SNHL (sensorineural hearing loss) dan diskriminasi kata yang buruk akan mendapatkan manfaat ABD yang tidak sesuai dengan harapan atau espektasinya. Sebagian memutuskan untuk tidak memakai. Sebagian memutuskan memakai ABD dan mendapakan manfaat yang berangsur meningkat. Lagi-lagi ini adalah sebuah pilihan.

Pada anak-anak dengan gangguan sangat berat, sudah pasti gangguan saraf atau SNHL. Dibutuhkan bantuan alat untuk pendengarannya. Tentu saja dia memiliki persepsi tersendiri terhadap sebuah kata yang dipelajari, dalam hal ini yang dia dengar dan dia ucapkan. Persepsi itu selalu benar asal konteksnya benar. Proses belajar ini tidak akan terjadi tanpa alat bantu dengar

Jadi akan ada perlakuan yang berbeda untuk orang dewasa dan untuk anak-anak dalam usaha pemakaian alat bantu dengar untuk mereka. Karena pada orang dewasa, pemakaian alat bantu dengar menjadi sebuah pilihan dengan keputusan memakai atau tidak yang bisa sepenuhnya diambil oleh yang bersangkutan. Sedangkan untuk anak-anak, pemakaian alat bantu dengar menjadi sebuah keharusan yang keputusan pemakaiannya ada di tangan orang tua mereka.


Pengalaman Mengontrak

Maret 22, 2010

Sebelum bisa menempati rumah sendiri, lebih dari enam belas tahun, saya bertempat tinggal dengan cara ngekost atau ngontrak. Melewatkan waktu dengan cara ngekost ataupun mengontrak selama itu tentu saja telah begitu banyak pengalaman yang telah saya dapatkan. Terutama pengalaman duka.

Pengalaman pertama adalah ketika awal kuliah. Bersama dengan beberapa teman, saya mengontrak sebuh rumah di sebuah perumahan di dekat kampus. Pada musim hujan, ternyata terjadi banjir setinggi setengah meter di rumah kami ini.Untuk bertahan, kami merangkai bambu yang kami beli untuk dijadikan ”lantai dua” setinggi kurang lebih satu setengah meter, dalam salah satu kamar kami. Di ”lantai dua” inilah kami bertahan sampai banjir mereda. Ironisnya, ketika musim kemarau, di perumahan ini sama sekali tidak ada air, termasuk air pam juga tidak mengalir. Kami bertahan dengan cara membeli es batu untuk kami rebus dahulu sebelum kita gunakan untuk minum ataupun ”mandi”.

Masa berikutnya, adalah ketika saya mengontrak rame-rame di sebuah perumahan yang lain. Kali ini bersama teman-teman kampus. Hampir semua yang tinggal dan numpang tinggal disitu, gondrong semua. Tidak jarang lebih sepuluh orang gondrong tinggal disitu. Tetangga kira kita ini kumpulan anak nakal. Banyak cara dilakukan untuk bertahan di masa ini. Dari mancing ikan sampai nembak burung dilakukan untuk dipakai lauk makan. Suatu ketika, perumahan lagi banjir. Disekitar rumah banyak tumbuh kangkung. Muncul ide untuk memetik kangkung tersebut. Ternyata, setelah dimasakpun, kangkungnya masih beraroma khas wc.

Masa berikutnya, saya tinggal di pondokan. Disini, kamarku jadi tempat ngumpul juga. Saya tinggal berdua Untung, salah satu teman yang berasal dari Jakarta. Ada pemahaman yang aneh di pondokan ini tentang kamarku. Setiap saya bertanya tentang keberadaan seseorang, yang secara kebetulan saya tidak tahu bahwa yang bersangkutan berada di kamarku sendiri, sering saya mendapati jawaban-jawaban yang rancu dari orang-orang tersebut, karena mereka selalu menjawab ”Oh..ada di kamarnya Untung..” atau ”Coba cari di kamarnya Untung…” Padahal yang bayar sewa pondokan itu kan saya. Seharusnya kan itu kamar saya, bukan kamarnya Untung.

Berikutnya adalah ketika kuliahku sudah selesai. Karena sudah sssselesai kuliah, saya malu minta uang lagi ke orang tua. Karena tidak ada uang untuk bayar kost, saya memilih untuk tinggal di kampus. Disalah satu ruangan sekretariat. Ada saja yang bawa makanan untuk bertahan hidup. Tapi pernah dihari minggu, hari libur bagi anak kuliah. Sudah begitu, semua orang pulang ke rumah masing-masing. Sementara, persediaan makanan lagi tidak ada sama sekali. Untunglah di sekitar situ ada pohon pisang yang sudah berbuah. Walau masih mentah, tapi kalau direbus, enak juga. Jadi hari itu, makan pagi, makan siang dan makan malam, menunya pisang mentah rebus. Seharian saya terkentut-kentut.

Setelah saya berkeluarga, terhitung empat kali kami menempati rumah kontrakan yang berbeda. Kecuali yang keempat, tiga yang pertama, berturut-turut, kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Yang pertama adalah saat tetangga kami, sesama pengontrak, tanpa sepengetahuan kami, ternyata lagi bermusuhan dengan kakak kandungnya yang kebetulan bertempat tinggal tepat didepan kontrakan kami.Dia marah karena tidak dikasih ijin lagi untuk tinggal dirumah kakaknya, sehingga dia harus mengontrak. Dia tidak rela kalau kami berhubungan baik sengan kakaknya sekeluarga. Tanpa kami ketahui penyebabnya, tiba-tiba dia sekeluarga mengamuk dan mengejar-ngejar istri dan anakku yang masih bayi digendongannya. Kami terpaksa pindah dari situ dengan menyisakan sekitar enam bulan masa kontrak yang sudah terlanjur kami bayar.

Yang kedua, adalah saat kami mengontrak sebuah petak kecil untuk kami tinggali. Kami memanfaatkan ruangan semi terbuka didepan kamar kami untuk dijadikan tempat masak. Karena mungkin sudah jadi kebiasaannya, dimalam hari, ruangan ini juga menjadi tempat favorit bagi seekor anjing tua milik yang empunya rumah untuk buang kotoran. Dengan kesal, setiap pagi istriku mengawali kegiatan membersihkan kotoran anjing di ”dapur” kami.

Yang ketiga, adalah saat kami mengontrak di sebuah rumah petak yang kalau hujan deras, banjir. Tapi yang paling tidak menyenangkan adalah ulah suami istri, tanpa anak, pemilik rumah kontrak yang tinggal disebelah rumah kami, dengan hanya bersekat dinding triplek saja. Sang suami, punya hobi minum alkohol, yang kalau mabuk suka teriak-teriak tidak jelas, lebih sering, ditengah malam menjelang pagi. Anehnya, sang istri, walaupun tidak pernah mabuk, tingkahnya tidak kalah dengan suaminya. Suatu malam, sekitar jam dua, sang istri berteriak sangat keras ”Tolong…tolong…!” Saya terbangun dari tidur pulasku dan sekonyong-konyong meloncat dari tempat tidur. Setelah berusaha keras mengumpulkan kesadaran, akhirnya saya ada di depan pintu rumahnya dengan beberapa tetangga. Tapi kami semua takut untuk masuk kerumahnya. Kami mengira, sang istri akan dibunuh oleh suaminya yang lagi mabuk. Setelah istrinya keluar, kami baru tahu, ternyata sang suami berusaha bunuh diri dengan cara makan kapur barus.


Gadis Kecil di Telpon Umum

Februari 22, 2010

Terkadang saya punya keinginan yang butuh perjuangan untuk bisa diraih. Semakin saya pikirkan solusinya, akan semakin pula saya dapatkan kendalanya. Karenanya, jadi semakin merasa tidak mungkin untuk meraihnya. Sering kali saya sudah menyerah pada tahapan ini.

Seharusnya saya tidak perlu terlalu panjang memikirkan langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Seharusnya langsung melakukan satu tindakan yang pertama-tama terbersit di kepala saya. Setelah terlaksana, dengan sendirinya akan muncul langkah apa yang harus kita lakukan berikutnya. Begitu seterusnya, sampai terselesaikan semuanya.

Gambar berikut adalah gadis kecil, berumur tujuh tahunan, sedang asik menelpon di sebuah telpon umum. Karena tinggi badannya yang tidak mungkin sampai untuk meraih gagang telpon, dia menggunakan sebuah kursi pelastik untuk menambah ketinggian. Sehingga dia berhasil menelpon.

Ketika gadis kecil ini punya keinginan untuk menelpon, pasti gadis kecil ini tidak memikirkannya terlalu lama. Dia tahu, dia bisa memanfaatkan telpon umum, dia punya koin dan ada kursi yang bisa dia gunakan untuk menambah ketinggian.

Dia pasti tidaklah memikirkan, betapa jauhnya dia harus membawa kursi plastik yang berat itu. Betapa capeknya dia membawa kursi tersebut. Betapa malunya dia kalau ada orang dewasa yang mengolok-oloknya. Bagaimana kalau di jatuh dari kursi tersebut. Dan lain sebagainya.

Pasti yang dia tahu, dia harus menelpon. Dan menelponlah dia.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.